Rabu, 01 November 2023

Belajar Sepanjang Hayat

 

Belajar Sepanjang Hayat

Oleh Suwarsono, S.Pd.,M.Pd.

SMP Negeri 1 Puri

 

 Manusia mungkin memang ditakdirkan untuk terus belajar sepanjang hidupnya karena begitu banyaknya rahasia di bumi dan langit yang belum diketahui oleh manusia. Sepanjang perjalanan peradaban  manusia, penemuan terhadap hal baru, utamanya teknologi yang dianggap bisa merubah cara hidup manusia pun tidak terjadi dalam waktu bersamaan tetapi dalam kurun waktu acak yang terkadang tampak seperti berurutan. Kadang juga dalam rentang yang sangat lama.

Secara naluriah, manusia memiliki rasa ingin tahu yang kuat sejak ia dilahirkan ke dunia. Rasa ingin tahu itu berkembang seiring dengan pertumbuhan fisik dan psikis manusia pada setiap fase kehidupan dari anak-anak, remaja, dewasa, dan tua.

Rasa ingin tahu itulah yang mendorong manusia mencari tahu dengan berbagai cara. Salah satu caranya adalah menempuh pendidikan formal pada sekolah yang disedia-kelolakan pemerintah atau pihak swasta. Hal ini disebut belajar. Hasilnya adalah seseorang itu mendapat pengetahuan yang dikriteriakan dan dilegalkan pemerintah dalam bentuk surat tanda tamat belajar atau ijazah masing-masing jenjang pendidikan.

 

Refreshing atau updates pengetahuan

Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tidaklah tetap dan sangat mungkin berkurang karena faktor internal  dalam diri orang tersebut. Yang sering terjadi adalah “penyakit” lupa yang melanda setiap orang seiring dengan pertambahan usia. Dalam ilmu psikologi disampaikan bahwa semakin dewasa/tua seseorang semakin berkembang daya nalarnya dan semakin berkurang daya ingatnya. Ada beberapa tip agar kita tidak mudah lupa, salah satunya adalah tetap gemar membaca. Dalam skup yang lebih luas adalah belajar sebab belajar indentik dengan terus membaca. Sebagian besar pengetahuan yang didapat manusia menurut saya berasal dari kegiatan menggunakan indera mata, yaitu salah satunya membaca. Kemudian yang kedua dari kegiatan mendengar yang menggunakan indera telinga.

Karena rentan berkurang bahkan mungkin hilang maka refreshing atau updates pengetahuan itu amat diperlukan. Refreshing diperlukan untuk selalu menyegarkan ingatan kita pada pengetahuan yang telah kita dapatkan di waktu lampau. Workshop, seminar, atau pun bimtek adalah upaya untuk merefresh pengetahuan. Sedangkan update diperlukan untuk memperbarui atau menyesuaikan dengan kondisi terkini perkembangan pengetahuan itu.


Peningkatan atau upgrade pengetahuan

Sedangkan upgrade diperlukan untuk meningkatkan kompetensi diri atau menyesuaikan dengan kondisi yang lebih tinggi daripada pengetahuan yang dimiliki saat ini. Dalam skup yang lebih luas update dapat juga dimaknai sebagai upaya menambah pengetahuan yang sudah dimiliki sehingga lebih luas. Misalnya seseorang yang sudah menempuh pendidikan strata 1 (baca: sarjana) lalu melanjutkan ke strata 2 (baca: magister/master). Kemudian yang sudah magister melanjutkan ke program doktoral.

Namun, tidak semua pendidik mau melanjutkan pendidikan ke strata 2. Mungkin sudah merasa cukup pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan strata 1 yang telah ditempuhnya. Toh, ketika mengikuti seleksi CPNS guru syarat pendidikan minimal S1. Di samping itu, melanjutkan ke jenjang S2 tentu membutuhkan biaya yang cukup besar. Untuk jenjang SMP masih belum banyak guru yang berpendidikan S2. Sedangkan untuk jenjang SMA sudah cukup banyak yang menempuh S2 karena beberapa tahun yang lalu pernah ada program RSBI, yang mensyaratkan tenaga pendidikannya berkualifikasi strata 2.

Meski program RSBI akhirnya dihentikan pemerintah, saya pikir tidak rugi melanjutkan ke S2 bagi para pendidik itu. Setidaknya ijazah bisa digunakan untuk naik pangkat. Mungkin yang sudah menempuh S2 akan mencalonkan diri sebagai kepala sekolah atau pengawas sekolah tentu itu sangat pantas dan layak.

Jadi belajar sepanjang hayat bisa kita lakukan melalui pendidikan formal maupun informal. Belajar secara otodidak juga termasuk kegiatan belajar sepanjang hayat. Belajar secara otodidak di era digital seperti saat ini sangat mungkin dilakukan. Berbagai sumber belajar tersedia secara terbuka dan mudah diakses di berbagai laman internet. Tinggal niat, kemauan, dan kesungguhan kita dalam melaksanakannya. Belajar secara mandiri dan online bisa dilakukan siapa saja yang mau dan mampu. Banyak aplikasi pembelajaran yang bisa dipelajari secara mandiri melalui tutorial yang disediakan. Kegiatan webinar juga cukup banyak, apalagi dalam platform Merdeka Mengajar (PMM) dalam implementasi Kurikulum Merdeka.

Akhirnya, semoga kita sebagai pendidik mampu memberi teladan tentang belajar sepanjang hayat (long life education) kepada orang-orang di sekitar kita, utamanya murid kita, dan dapat melaksanakan tugas mendidik para siswa di sekolah masing-masing dengan profesional, dengan pengetahuan terkini karena sesungguhnya mendidik adalah membelajarkan anak hidup dan mengatasi berbagai masalah kehidupan di zamannya, saat ini, bukan zaman pendidik. Sebab saat ini pemerintah melalui Kemendikbudristek tengah berusaha mewujudkan profil pelajar pancasila.

Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri karakter utama: beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, serta berakhlak mulia, bernalar kritis kreatif, mandiri, berkebinekaan global, dan bergotong royong.

$$

Jumat, 17 Juni 2016

Review puisi Atas Nama Cinta




Cinta  Terlarang dari  Cikeusik
Oleh Suwarsono

Isu diskriminasi dan kekerasan, seperti kekerasan fisik, psikologis, seksual, dan kekerasan social (atas nama) agama, masih menjadi tema yang aktual dan menarik untuk diangkat ke dunia sastra dalam berbagai bentuk, seperti puisi, cerpen, dan novel. Di  berbagai surat kabar, banyak dimuat cerpen yang bertema isu-isu tersebut.
Membaca puisi esai Atas Nama Cinta (ANC) karya Denny JA pada puisi kedua Romi dan Yuli dari Cikeusik (RYC) saya jadi teringat lagu, yang kemudian difilmkan  Cinta Terlarang (CT) yang dibintangi the Virgin.  Puisi esai ini juga setema dengan novel yang ditulis Bagin Cinta Bersemi di Seberang Tembok (CBST). Ketiganya juga mengandung isu deskriminasi. Jika pada CBST isu deskriminasinya lebih pada masalah ras atau suku bangsa, maka pada ANC isu deskriminasinya pada masalah agama, dan Pada Cinta Terlarang mengangkat isu diskriminasi sosial kaya-miskin. Persamaannya kedua tokoh pada CT, RYC dan CBST adalah kendala atau rintangan ketika dua sejoli yang saling mencintai itu hendak menikah karena perlakuan diskriminatif.
Pada CBST Yusuf  merasa dendam dan benci terhadap orang cina karena pasukan Poh An Tui yang bergabung dengan pasukan belanda pernah menyiksa ayahnya. Namun nasib berkehendak lain. Setelah perang usai, yusuf menjalin hubungan cinta dengan Ko Lian Mien, seorang gadis Cina. Rintangan datang dari keluarga yusuf yang tidak suka gadis Cina itu. Tekad mereka membangun sebuah keluarga terwujud dengan perjuangan yang penuh keuletan dan keyakinan.
Pada RYC Romi dan Yuli berada di dua pihak yang berbeda keyakinan. Romi di pihak Ahmadiyah, dan Yuli di pihak Islam garis keras. Ahmadiyah dan Islam tidak akan pernah bertemu, bahkan bermusuhan.
Pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan suci. Dalam budaya Jawa berlaku norma 3B, yaitu bebet, bibit, bobot bagi kedua mempelai dari sudut pandang masing-masing keluarga. Perhitungan yang njlimet masih berlaku untuk hari H pernikahan yang memperhitungkan weton kedua mempelai. Oleh karena itu, pernikahan adalah penyatuan kedua mempelai dan keluarganya sehingga restu dari kedua belah pihak orang tua mutlak dibutuhkan. Jika tidak ada restu rasanya impossible keduanya ke pelaminan.  
Perbedaan CBST dan RYC adalah ending-nya. CBST berakhir happy ending sedangkan RYC unhappy ending karena campur tangan penulis yang keburu ‘mematikan’ tokoh Yuli. Tapi perbedaan ending ini tentu saja terjadi karena RYC adalah puisi esai yang benar-benar ditulis berdasarkan fakta yang benar-benar terjadi atau bahasa kerennya true story dan didukung catatan-catatan kaki yang menegaskan fakta itu. Sedangkan  CBST adalah fiksi yang mungkin saja hanya refleksi realitas sosial yang dibumbui imajinasi. Sebuah fakta yang fiktif. Tetapi keduanya membenarkan pandangan sosiologi sastra bahwa sastra adalah cerminan realitas sosial pada zaman sesaat, atau sesudah karya sastra itu diciptakan.
Dalam pengantar dan epilog buku puisi ini dikatakan puisi esai adalah suatu cara penulisan baru. Puisi esai mungkin menbentuk genre baru. Tampaknya tidak. Puisi semacam ini dapat dengan mudah kita temui pada puisi-puisi karya WS Rendra, misalnya Khotbah, dan puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo, misalnya Sajak untuk Aida.
Mari kita bandingkan gaya Denny dengan WS Rendra pada kutipan berikut.
...
Ayah  Romi kaget, dikatakannya
Kita semua sedang berduka, Nak.
Kita tahu sikap mereka
Kita merasakan horor yang mereka taburkan
Mereka itu bla...bla...bla
Sedangkan kita tra...la...la...tra...li...li...           
...
dengan kutipan puisi WS Rendra berikut ini.

Khotbah
...
Cinta itu di toko Arab
Cinta di belakang halaman gereja
Cinta itu persatuan dan tra-la-la
Tra-la-la. La la la. Tra-la-la.

Ada persamaan puisi esai ini dengan puisi-puisi WS Rendra, yaitu model penceritaan yang naratif dan beralur. Puisi semacam ini ditinjau dari segi isinya termasuk ballada. Sedangkan dari segi bentuk puisi ini bisa termasuk puisi liris. Sedangkan persamaan dengan puisi-puisi Subagio adalah penomoran puisi karena puisi yang panjang.
Jika bait-bait puisi esai ini disambung dan digabungkan tampaknya akan membentuk sebuah paragraf narasi yang enak dibaca. Ya mungkin itulah disebut esai. So, tak ada sesuatu yang baru di sana. Biasa saja.
Puisi esai ini mengalir lancar dengan diksi yang sederhana dan tidak begitu konotatif sebagaimana puisi-puisi konvensional yang selalu ‘bermain’ kata. Cara seperti ini di satu sisi memudahkan pembaca memahami isi puisi. Pembaca juga dipermudah dengan gaya naratif puisi yang beralur. Nikmatnya membaca puisi adalah sulitnya memahami makna diksi dan efek-efek diksi yang dipilih penulis puisi. Semakin sulit sebuah puisi dipahami, maka disitulah keindahan dan kenikmatan yang diperoleh pembacanya. Puisi yang yang secara semantis mudah dipahami biasanya tidak terlalu meninggalkan kesan bagi pembacanya.
Yang hebat dari buku puisi esai ANC ini adalah tercantumnya dua maestro puisi Indonesia, yaitu Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Colzoum Bachri sebagai penulis epilog buku ini. Kedua maestro tersebut memberi apresiasi dan kritik terhadap puisi esai ini.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa pemberian kata pengantar dan sejenisnya oleh tokoh terkenal seperti akademisi, pejabat, sastrawan terkenal pada sebuah buku baru bertujuan untuk meyakinkan pembaca bahwa buku itu buku ‘bermutu’ yang patut dibaca dan dibeli. Lantas sejajarkah puisi esai ANC karya Denny ini dengan puisi-puisi Sapardi dan Sutardji? mungkin belum, kalau tidak dikatakan tidak. Kepenyairan Sapardi dan Sutardji sudah teruji dan diakui banyak kalangan, sedangkan Denny dalam dunia kepenyairan belum terkenal. Mungkin benar kata orang bahwa tidak semua orang ahli semuanya.
Tetapi, bagaimana pun ANC ditilik dari isinya tetaplah puisi yang patut mendapat apresiasi. Berbagai isu deskriminasi memang melanda negeri ini dan ANC ini berhasil merekam dan mendokumentasikan peristiwa besar yang pernah terjadi di negara ini,  yaitu reformasi (baca: Kerusuhan Mei), peristiwa Cikeusik, dan masalah TKW dengan bahasa sastra, bukan bahasa umum. Tentu saja ini berkonsekwensi pada terbatasnya pembacanya karena bagaimana pun buku sastra hanya dibaca kalangan tertentu seperti akademisi, mahasiswa, pegiat/komunitas sastra, dan lain-lainnya yang notabene jumlahnya terbatas. Masyarkat awam tentu lebih memilih koran atau menonton tayangan TV untuk melihat dan memahami isu deskriminasi ini daripada membaca buku puisi esai ini.