Belajar Sepanjang Hayat
Oleh Suwarsono, S.Pd.,M.Pd.
SMP Negeri 1 Puri
Manusia mungkin memang ditakdirkan untuk terus belajar sepanjang hidupnya karena begitu banyaknya rahasia di bumi dan langit yang belum diketahui oleh manusia. Sepanjang perjalanan peradaban manusia, penemuan terhadap hal baru, utamanya teknologi yang dianggap bisa merubah cara hidup manusia pun tidak terjadi dalam waktu bersamaan tetapi dalam kurun waktu acak yang terkadang tampak seperti berurutan. Kadang juga dalam rentang yang sangat lama.
Secara naluriah, manusia memiliki rasa ingin tahu yang kuat sejak ia dilahirkan ke dunia. Rasa ingin tahu itu berkembang seiring dengan pertumbuhan fisik dan psikis manusia pada setiap fase kehidupan dari anak-anak, remaja, dewasa, dan tua.
Rasa ingin tahu itulah yang mendorong manusia mencari tahu dengan berbagai cara. Salah satu caranya adalah menempuh pendidikan formal pada sekolah yang disedia-kelolakan pemerintah atau pihak swasta. Hal ini disebut belajar. Hasilnya adalah seseorang itu mendapat pengetahuan yang dikriteriakan dan dilegalkan pemerintah dalam bentuk surat tanda tamat belajar atau ijazah masing-masing jenjang pendidikan.
Refreshing atau updates pengetahuan
Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tidaklah tetap dan sangat mungkin berkurang karena faktor internal dalam diri orang tersebut. Yang sering terjadi adalah “penyakit” lupa yang melanda setiap orang seiring dengan pertambahan usia. Dalam ilmu psikologi disampaikan bahwa semakin dewasa/tua seseorang semakin berkembang daya nalarnya dan semakin berkurang daya ingatnya. Ada beberapa tip agar kita tidak mudah lupa, salah satunya adalah tetap gemar membaca. Dalam skup yang lebih luas adalah belajar sebab belajar indentik dengan terus membaca. Sebagian besar pengetahuan yang didapat manusia menurut saya berasal dari kegiatan menggunakan indera mata, yaitu salah satunya membaca. Kemudian yang kedua dari kegiatan mendengar yang menggunakan indera telinga.
Karena rentan berkurang bahkan mungkin hilang maka refreshing atau updates pengetahuan itu amat diperlukan. Refreshing diperlukan untuk selalu menyegarkan ingatan kita pada pengetahuan yang telah kita dapatkan di waktu lampau. Workshop, seminar, atau pun bimtek adalah upaya untuk merefresh pengetahuan. Sedangkan update diperlukan untuk memperbarui atau menyesuaikan dengan kondisi terkini perkembangan pengetahuan itu.
Peningkatan atau upgrade pengetahuan
Sedangkan upgrade diperlukan untuk meningkatkan kompetensi diri atau menyesuaikan dengan kondisi yang lebih tinggi daripada pengetahuan yang dimiliki saat ini. Dalam skup yang lebih luas update dapat juga dimaknai sebagai upaya menambah pengetahuan yang sudah dimiliki sehingga lebih luas. Misalnya seseorang yang sudah menempuh pendidikan strata 1 (baca: sarjana) lalu melanjutkan ke strata 2 (baca: magister/master). Kemudian yang sudah magister melanjutkan ke program doktoral.
Namun, tidak semua pendidik mau melanjutkan pendidikan ke strata 2. Mungkin sudah merasa cukup pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan strata 1 yang telah ditempuhnya. Toh, ketika mengikuti seleksi CPNS guru syarat pendidikan minimal S1. Di samping itu, melanjutkan ke jenjang S2 tentu membutuhkan biaya yang cukup besar. Untuk jenjang SMP masih belum banyak guru yang berpendidikan S2. Sedangkan untuk jenjang SMA sudah cukup banyak yang menempuh S2 karena beberapa tahun yang lalu pernah ada program RSBI, yang mensyaratkan tenaga pendidikannya berkualifikasi strata 2.
Meski program RSBI akhirnya dihentikan pemerintah, saya pikir tidak rugi melanjutkan ke S2 bagi para pendidik itu. Setidaknya ijazah bisa digunakan untuk naik pangkat. Mungkin yang sudah menempuh S2 akan mencalonkan diri sebagai kepala sekolah atau pengawas sekolah tentu itu sangat pantas dan layak.
Jadi belajar sepanjang hayat bisa kita lakukan melalui pendidikan formal maupun informal. Belajar secara otodidak juga termasuk kegiatan belajar sepanjang hayat. Belajar secara otodidak di era digital seperti saat ini sangat mungkin dilakukan. Berbagai sumber belajar tersedia secara terbuka dan mudah diakses di berbagai laman internet. Tinggal niat, kemauan, dan kesungguhan kita dalam melaksanakannya. Belajar secara mandiri dan online bisa dilakukan siapa saja yang mau dan mampu. Banyak aplikasi pembelajaran yang bisa dipelajari secara mandiri melalui tutorial yang disediakan. Kegiatan webinar juga cukup banyak, apalagi dalam platform Merdeka Mengajar (PMM) dalam implementasi Kurikulum Merdeka.
Akhirnya, semoga kita sebagai pendidik mampu memberi teladan tentang belajar sepanjang hayat (long life education) kepada orang-orang di sekitar kita, utamanya murid kita, dan dapat melaksanakan tugas mendidik para siswa di sekolah masing-masing dengan profesional, dengan pengetahuan terkini karena sesungguhnya mendidik adalah membelajarkan anak hidup dan mengatasi berbagai masalah kehidupan di zamannya, saat ini, bukan zaman pendidik. Sebab saat ini pemerintah melalui Kemendikbudristek tengah berusaha mewujudkan profil pelajar pancasila.
Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri karakter utama: beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, serta berakhlak mulia, bernalar kritis kreatif, mandiri, berkebinekaan global, dan bergotong royong.
$$